Subscribe:
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 April 2012

ABCD


Ketika otakku mulai bermemori
Kumencari alam sekitarku
Atas kulihat bintang
Bawah kupandang tanah
Tak jauh waktuku
Awal kutatap dunia baru
Mudah kumengerti itu
Dunia yang menerbangkanku
Jadi anak terpadu
Dalam cerita formal
Kumengenal ABCD
Empat pemula dari dua puluh enam
Ribuan detik berlalu
Kata dan kalimat muncul di hidupku
1234 adalah unsur ke dua
Variasi 1234 begitu banyak
Langka untuk manusia
Ingat semua
Namun, di sisi lain
Api yang berkobar dalam hati
Terus menuliskan
"Aku pasti bisa"
Terus melukiskan
"Cerahnya masa depan"
Edukasi harus berjalan
Demi masa mendatang

Melawan Jiwa



Sepi
Tak bertepi
Nyala api
Suara sapi
Semua bersatu dalam jiwaku ini

Malam Sensasional



Malam yang sebal
Alam tak menggumpal
Bagai bunga yang kumal
Tanpa ada sesal
Di makhluk sosial
Ingin kubuat minuman sensasional

Jumat Kliwon Tanpa Hantu

Jumat kliwon telah berlalu
Belum sempat berburu hantu
Makhluk halus jangan malu-malu
Aku pengen lihat kamu

Alami + Ilmiah


Ketika angin berhembus tajam
Satu dua daun mulai jatuh
Bersama para hijau pemula
Melayang di bawah ranting rapuh

Sadar akan sumber daya
Menjadi rangkaian gaya
Terwujud jutaan karya
Hasil cipta manusia

Alami ilmiah bersatu
Senyawa jenius beradu

Kekal Kalahkan Akal


Sepasang matamu memaksaku terpaku
Setiap hela nafasmu adalah nadiku
Satu senyuman kalahkan rembulan
Genggaman tanganmu itu ikatan

Bagai rawa menggumpal
Terpenjara dalam cinta yang kekal
Menguju sehatnya akal
Untuk hati yang kental

Bukan Trigonometri


Tahukah engkau
Aku punya satu hati
Mengertikah engkau
Sudah tak bisa tercacah lagi
Apabila terbagi
Sama saja memutilasi

Hati ini sederhana
Berisi darah yang tiap tetesnya adalah namamu
Bermassa 100 gram yang mampu takhlukanmu
Berwarna merah yang berani atasi kamu

Setiap manusia
Punya sebuah cerita
Dalam otak internal
Terselip sebuah nama
Sama sepertiku
Meski tak seindah lagu
Tak sekuat serdadu
Hanya sebatas kalbu
Namun bukan cinta yang kaku
Disetiap sudut kukagumimu
180 derajat putaran matamu
Memaksaku terpaku

Cintaku sederhana
Bukan rumus aljabar
Yang perlu menjabarkan rayuan
Satu per satu untuk terlontar

Bukan pula trigonometri
Sin : Sesaat INdahnya
Cos : untuk KAU Sakiti
Tan : TANpa perasaan

Ini adalah geometri
Tersusun dari titik kejujuran
Terwujud garis ketulusan
Sempurna menjadi bangun perasaan
Di setiap sudutnya
Tergores derajat cinta

Sudut-sudut cinta
1 derajat bermakna
360 derajat sempurna
Tahan badai
Tahan hujan
Tanpa air mata
Tiada main hati
Sedikit main mata

Senin, 19 Maret 2012

Suara Laut



Oleh : Dedytha Nur Annisa

Ombak berderu
Nyiur berseru
Mengapa harus terjadi ?
Kejam
Kau bunuh kawan kami
Sadis
Kau nodai pesona kami
Kemana nelayan harus merengkuh dayung
Apapila ikan-ikan mati
Bagaimana manusia tak kelaparan
Apabila racun menguasai
Mereka yang tak tahu dosa
Mereka yang tak bermoral

Andai aku adalah laut
Genggamlah kata-kata ini
Lihatlah air mataku
Dengarlah jeritanku
Pilu
Menyayat hati
Tiada senyum berseri
Telah kau renggut anugerah ini
Tinggalkan rupa pucat pasi

Rintihan Sebatang Pohon


Oleh : Dedytha Nur Annisa

Lihatlah sekujur tubuhku
Para serdadu hijau mati satu persatu
Menjadi mayat coklat nan kering
Hanya bersama tangan-tangan kurus aku hidup
Senantiasa temani tubuh tertua
Kulitku tersayat oleh terik
Perih
Sedih
Ketika tangis pantomim mendera
Tak ada manusia yang sedu sedan
Bahkan semut-semut kecil menutup telinganya
Peluhku tanpa daya
Ragaku miris tak bergaya

Tawa riang anak-anak kecil
Kini hilang secepat tiup angin
Mereka yang biasa bersandar di kakiku
Kini lari entah kemana
Mungkin ke rumah teduh
Tinggalkanku yang lumpuh
Hanya diam dan bersimpuh

Pada siapa aku mengadu ?

Kamis, 02 Februari 2012

LENTIK

By : dedytha

Di balik pintu
Aku melihatmu
Di sudut kelas
Ada sekilas


Demi badak berbulu mata lentik
Aku bisa memetik
Bulu mata dengan maskara
It's you
HANTU !!!

Minggu, 21 Agustus 2011

Jelmaan Setetes Air



Oleh : Dedytha Nur Annisa

Setetes dua tetes membelah bumi
Merasuki tanah
Terseret lari angin
Tebar aroma khas
Penyejuk sukma
Pembasuh raga
Kini setetes dua tetes air menjelma
Lautan coklat diatas pemukiman
Larikan apa yang ada
Bawa pulang sukma
Ke alam berseberangan
Bawa pergi jasad
Ke rumah berlapis tanah
Yang indah kemarin
Beri sakit hati ini
Yang sejuk kemarin
Beri mati hari ini

Apakah ini hanya cobaan ?
Atau siksaan karna ulah sendiri ?
Siapa tahu jawabnya ?

Sabtu, 20 Agustus 2011

Hanya Sebuah Slogan



Oleh : Dedytha Nur Annisa

Hijau alamku
Lestari bumiku
Sadarlah...
Itu telah rapuh
Menjadi sajak-sajak keruh
Dulu mereka di sini
Sekarang terpenggal
Oleh otoritas
Yang pentingkan suksesnya sendiri
Nasib tubuh-tubuh malang
Diabaikan walau badai menerjang
Bagaimana kita bisa berkata
Hijau alamku
Kalau yang hijau telah terbunuh
Tercabik kejamnya dunia
Tergores luka tak semu
Bagaimana kita bisa bersorak
Lestari bumiku
Kalau yang punya menganiaya
Hapus keasrian

Kini tinggal sebuah slogan
Yang sulit di tentang
Karna sastra

Rintihan Sebatang Pohon



Oleh : Dedytha Nur Annisa

Lihatlah sekujur tubuhku
Para serdadu hijau mati satu persatu
Menjadi mayat coklat nan kering
Hanya bersama tangan-tangan kurus aku hidup
Senantiasa temani tubuh tertua
Kulitku tersayat oleh terik
Perih
Sedih
Ketika tangis pantomim mendera
Tak ada manusia yang sedu sedan
Bahkan semut-semut kecil menutup telinganya
Peluhku tanpa daya
Ragaku miris tak bergaya

Tawa riang anak-anak kecil
Kini hilang secepat tiup angin
Mereka yang biasa bersandar di kakiku
Kini lari entah kemana
Mungkin ke rumah teduh
Tinggalkanku yang lumpuh
Hanya diam dan bersimpuh

Pada siapa aku mengadu ?

Kamis, 04 Agustus 2011

Aroma Hijau


Lapisan biru selimuti bumi
Aroma hijau membelai kami
Lima atmosfer melayang
Mega putih berbayang

Makhluk bumi bersemayam
Penuhi luas alam
Di sudut malam
Kumelangkah dengan jejak kelam
Jari-jari kusam
Yang sulit kugenggam
Segala nikmat terpendam
Bersatu dalam melodi legam

Bisik ombak mengadu manja
Pada insan terjaga
Angin bersenandung
Pada jiwa yang mendung

Remidi Kimia

Di antara Dewi dan Yudha
Terselip Dedytha
Tak tahu jawabnya
Hingga ku tanya Firda
Otak semakin berat dan berat
Apa itu karbonat ?
Kudengar jawaban gendeng
"Mboh, aku ora mudeng"


Kupandang sosok manusia
Beliau Bu Mega
Sang Guru Kimia
Tepat didepan mata
Patut waspada


Jantungku terpacu
Pada soal B satu
Oh Tuhanku
Tolonglah hamba-Mu


UNTITTLED

Kalau kita benar terpisah
Izinkan kutulis puisi terindah
Tentang hati gelisah
Tentang pikir yang gundah


Aromatik wangi tubuhmu
Menerjang pusat syaraf
Nyentrik hitam kulitmu
Mantap dilihat tanpa khilaf
Eksentrik lesung pipimu
Dipandang tiada insyaf
Eksotik wujud bodymu
Selalu ada hingga enough


Ini hanya kombinasi
Antara kertas dan tinta
Demi sebuah ekspresi
Kagumku padamu semata

Sabtu, 23 Oktober 2010

Sajak Terakhir

Hembus angin menampar diriku
Perlahan memupuskan segalaku
Meski tak terlepas
Hanya tak bicara
Itu pun sangat menyakitkan


Sesungguhnya aku yang salah
Kasih ini bagai di ujung tebing
Mungkin di sanding lahar


Kutenggelam di danau rindu
Yang tak kunjung menepi


Kurasa puisi sederhana ini
Sajak terakhir untukmu

Wakabayashi

Tombak kemenangan diujung mata
Awan biru yang menyongsong
Terik matahari menusuk pori
Di lautan hijau menari-nari
Angan juara terus membayangi
Desiran tangan menembus kalbu


Sang dewa pelindung
Itu julukanmu
Genzo Wakabayashi
Menghapus semangat lawan
Lindungi gawang di depan gapura
Apapun yang terjadi
Nyali tiada terhenti
Kobaran api tak kan hilang
Dirimu gagah berani
Dengan keyakinan bara tubuh
Senyum seolah pangeran
Menyambut hati nan tulus


Andai kau nyata
Kupertaruhkan bukan segalanya
Dalam khayal belaka
Ku ingin bertemu
Selama ku masih tegak
Harapku menatapmu
Walau tak jumpa jua
Hanya sekedar ilustrasi
Dalam hati berilusi

Mei Hwa

Senandung dewi menunggu
Datangnya semi kehidupan
Lima sayap nan cantik
Mungkinkah pertanda kan harapan
Mei Hwa
Jauh di tanah China
Melambangkan ketentraman jiwa
Ketika mahkotamu terhempas di bumi
Daunmu memulai tunas kehidupan
Sang Puteri Bunga
Mengarak hati sluruh dunia
Punggawa putih gagah berani
Seniman merah jambu mempesona
Wahai Mei Hwa
Mekarlah sepanjang waktu
Tenangkan raga yang senyap
Hiasi alam nan permai

Diego (yang Dulu)


Diego ku...
Kau hanya membuat pilu
Kau tak pernah ada di saat ku perlu
Bila kau mengucapkan kata-kata syahdu
itu bukan seuntai lagu
'Tuk memberi sentuhan kalbu
Yang merasuk hati sendu
Kau selalu mempermainkan aku
Meski engkau pangeranku